PERKEMBANGAN FENOMENOLOGI PADA REALITAS SOSIAL MASYARAKAT DALAM PANDANGAN EDMUND HUSSERL

Supriadi Supriadi




Abstract


Paradigma utama sosiologi fakta sosial, definisi sosial dan perilaku sosial sesungguhnya mencoba menjelaskan tarik ulur individu atau dikenal dengan aktor dan masyarakat, termasuk struktur di dalamnya. Persoalannya adalah apakah individu yang mempengaruhi struktur ataukah struktur mendominasi individu, sehingga tidak memiliki pilihan lain untuk bertindak. Ada pendekatan-pendekatan lain yang bersifat radikal dalam arti menolak pangandaian ortodoksi ‘fungsionalisme struktural’ yang menjadi mainstrem, cap yang diberikan kepada sintesis Talcott Parson atas organisme Durkheim dan Teori Tindakan Sosial Weber yang mendiminasi teori sosial pasca Perang Dunia Kedua, yaitu fenomenologi. Dunia-kehidupan dalam pengertian Husserl kurang lebihnya mengandung arti bahwa, dunia sebagaimana manusia menghayati dalam spontanitasnya, sebagai basis tindakan komunikasi antar subjek. Dunia-kehidupan ini adalah unsur-unsur sehari-hari yang membentuk kenyataan kita, yakni unsur dunia sehari-hari yang kita libati dan hidupi sebelum kita menteorikannya atau menrefleksikannya secara filosofis. Fenomenologi melihat komunikasi sebagai sebuah proses membagi pengalaman personal melalui dialog atau percakapan. Fenomenologi adalah disiplin ilmu yang berbeda dari namun masih memilki hubungan dengan disiplin dalam bidang filsafat, seperti ontology, epistomologi, logic dan ethics. Yang membedakan pada penemuan pengetahuan dalam fenomenologi ialah mengesampingkan sementara segala teori, pendapat dan pandangan yang telah diketahui sebelumnya oleh setiap orang, dengan tujuan agar dapat menangkap hakikat yang murni. Sebagai tolok ukurnya ialah kebenaran intersubjektif, kebenaran pengetahuan jika melakukan eksplorasi makna noumenon di balik yang phenomenon menuju metateori dan metasains. Langkah-langkah metode yang dipakai ialah (1). Reduksi fenomenologis, (2). Reduksi Eidetik, (3). Reduksi transendental. Artikel ini akan mendeskripsikan sebuah state of the art dari fenomenologi dimaksud, yaitu suatu penjelasan sejarah kemunculan sebuah teori, perkembangan atas dasar penjabaran oleh teori-teori yang datang berikutnya serta perkembangan mutakhirnya.


Keywords


Paradigma, komunikasi fenomenologi, ontology, epistomologi, logic, ethisc.

References


Abbas Hamimi Mintaredja. (1983) .Teori Pengetahuan Menurut Berger. Laporan Penelitian Fakultas Filsafat UGM. Yogyakata: UGM,

Craib, Ian. (1992) Teori-teori Sosial Modern: Dari Parsons Sampai Habermas, Rajawali Pers, Jakarta.

Campbell, Tom. (1994) Tujuh Teori Sosial, ter-jemahan F. Budi Hardiman. Yogyakarta: Kanisius.

Connolly, Peter. (2002) Aneka Pendekatan Studi Agama. Yogyakarta: LKiS.

Gallagher, T. Kenneth. (1984) Epistemologi, sadur oleh Hardono Hadi, Yogyakarta: Kanisius, 1984

Harun Hadiwijono. (1980) Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius.

Http://FenomenologiTeori%20«%20Teguh%20Iman%20Prasetya.mht

http://plato.stanford.edu/entries/phenomenology/, di-akses tanggal 05 Mei 2009.

Mayol, Velarde, Viktor. On Herrserl. USA: Belmont, tt.

Muslih, Mohammad, (2204) Filsafat Ilmu Yogyakarta: Belukar.

Ritzer, George. (1983) Contenporary Sociological Theory, New York: Alfred A. Knopt

Schultz, Alfred. (1967) The Phenomenology of the Social World, Northwertern, USA.

Shofiyullah Mz. (Juli 2002) Fenomenologi Edmund Husserl (Suatu Pendekatan Memahami Kete-gangan Religiusitas). Jurnal Ilmu-ilmu Ushulud-din Esensia. 13(2).

Zubaidi, Sujiat, dan Muslih Mohammad. (213) Kritik Epistemologi dan Model Pembacaan Kontem-porer, Yogyakarta: LESFI.


Full Text: PDF

The Journal is published by The Institute of Research & Community Outreach - Petra Christian University. It available online supported by Directorate General of Higher Education - Ministry of National Education - Republic of Indonesia.

©All right reserved 2016.Scriptura, ISSN: 1978-385X

free web stats
View My Stats




Copyright © Research Center Web-Dev Team